 Kami mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Keluarga kami sedang datang berkunjung. Kamu melihat bus yang besar itu? Mereka datang kesini menggunakan bus itu. Mereka sama seperti kami merasa sangat bahagia. Itulah sebabnya mereka pergi bersama-sama melihat rumah baru kami” Kata ida Danilah kepada Qatar Charity. Ida Danilah 45 tahun dan Ika Hermawan suaminya yang berumur 47 tahun memberitahu QC bahwa mempunyai rumah sendiri adalah suatu mimpi. Semenjak tahun 2002, setelah perusahaan baju tempatIika bekerja ditutup, hidup yang dijalaninya semakin sulit.
Dengan mendapatkan uang pesangon se  besar Rp. 5 juta , Rp. 2 juta ia gunakan untuk menyewa lapak (kios kecil ukuran 2x3m) dan Rp. 3 juta-nya ia gunakan untuk modal usaha bisnis toko kelontongnya yang terletak di pasar tradisional karawang. Sayangnya, karena disebabkan oleh lokasi yang tidak strategis, mereka terpaksa menemui kesulitan keuangan yang memaksa mereka untuk pindah ke rumah kontrakan yang lebih murah yang terbuat dari bambu di Kampung Ciampel, Karawang, sekitar 1.5 jam dari kampung Jatiragas, tempat Kompleks Terpadu An-Nur. Sejak saat it  u dia pindah dari rumah kontrakan satu ke kontrakan lainnya. “Kami sudah pindah rumah sebanyak 6 kali” Mereka harus hidup terpisah dengan 2 anak mereka; biaya hidup kedua anak mereka ditanggung oleh sanak-saudara mereka dan hidup bersamanya. Kadang-kadang, kedua anak mereka harus tinggal di masjid dan melakukan pekerjaan apa saja demi bertahan hidup. Ika sendiri bekerja sebagai buruh sementara sedangkan Ida membantunya dengan menjual macam-macam makanan ringan didepan rumah kontrakan mereka. Terkadang Ida menjual piring keramiknya dengan harga Rp.5.000,00 dan dengannya dapat membeli makanan untuk dimakan. Mereka tidak mau meminta-minta walaupun mereka hidup dalam kemiskinan. Ketika mereka mengeta  hui bahwa keluarga mereka salah satu yang nominasi menjadi penerima program perumahan ini, mereka kira mereka tidak akan mendapatkannya. “Proses seleksinya sangat ketat. Dan banyak sekali kandidatnya” Namun, ini merupakan suatu yang mengejutkan bagi mereka ketika panitia seleksi mengabarkan bahwa mereka mendapatkan sebuah rumah. “Saya langsung sujud syukur diatas tanah ” Kata Ika. Sekarang mereka menempati tempat tinggal yang sesuai, tidak perlu mengeluarkan uang sebesar Rp.300.000,00 per bulan untuk membayar rumah kontrakan, anak mereka kembali dan hidup bersama mereka.
Ida bermaksud untuk menjajakkan snak dan minuman untuk anak sekolah pada sekolahan yang berada di Kompleks terpadu An-Nur sementara Ika memfokuskan diri dalam memberikan jasa sebagai buruh bangunan berdasarkan panggilan. |